admin admin Author
Title: Anggraini Bisa Daftar Sekolah, Tapi Masih Butuh Bantuan
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
harianpadang.com- Kakak dari Ryan Saputra, 11, bocah kelas IV SD yang dibantu Dompet Dhuafa Singgalang karena patah tangan beberapa waktu la...
harianpadang.com-Kakak dari Ryan Saputra, 11, bocah kelas IV SD yang dibantu Dompet Dhuafa Singgalang karena patah tangan beberapa waktu lalu akhirnya bisa masuk sekolah. Anggraini Putri namanya,  anak dari pasangan Arisman,38, dan Yuli Susanti,31, itu sudah hampir putus asa.

Teman-teman sebayanya sudah selesai mengikuti masa orientasi siswa (MOS), sedang sibuk dengan kegiatan pesantren ramadhan. Cuma apa daya, dia tak bisa memaksakan kehendaknya untuk sekolah karena kondisi orangtuanya yang tidak mampu. Untuk tempat berteduh saja, untung ada yang berbaik hati memberikan tumpangan berupa bekas gudang kayu dan besi. 

Gudang yang nampak seperti rumah panggung. Lantainya dari papan namun tanpa dinding yang memadai sehingga mereka harus menempel beberapa terpal untuk dijadikan dinding. Tapi kalau sudah hujan diikuti angin kencang, air pasti masuk ke dalam dan membasahi seluruh peralatan rumah tangga, termasuk kasur, tempat mereka tidur bersama-sama. Arisman, istri dan empat anaknya. Kalau angin kencang, rumah panggung itu akan bergoyang seperti hendak rubuh.

Meski begitu, mereka sangat bersyukur bahkan sangat berterimakasih kepada teman yang telah mau memberikan tumpangan di Jalan Batang Arau No 80 dekat Kantor Kepolisian Kelautan Muaro Padang. Bahkan biaya listrik dan air pun tak perlu pusing mereka pikirkan, sudah ditanggung oleh temannya itu.

"Dulu sebelum dapat hunian ini, saya sempat putus asa. Kontrakan kami sebelumnya sudah menunggak enam bulan, Ryan sakit tangan, anak dan istri mau makan, Anggraini mau masuk SMP, sementara penghasialan saya sebgai seorang buruh di Pelabuhan Muaro sangatlah jauh dari cukup," katanya.

Demi membantu Arismen memenuhi kebutuhan sehari-hari, tiga anaknya pun terpaksa harus menjadi pemulung besi di sekitaran Muaro Padang. Kadang juga menjadi juru parkir di salah satu kantor pemerintahan bidang pembangunan dekat hunian mereka.

Hidup harus terus dilanjutkan, meski morat-marit. Satu cita-cita besar Arisman, keempat anaknya jangan ada yang putus sekolah. Tapi, nampaknya mendapatkan pendidikan yang layak sangat sulit untuk dienyam oleh empat anaknya. Anggraini yang terancam putus sekolah terselamatkan karena ada donatur yang kemudian bermurah hati pada mereka. Sementara kelanjutan pendidikan anak-anaknya? Arismen tidak tahu pasti. 

"Sekarang, untung saja ada bantuan dari Dompet Dhuafa Singgalang untuk Anggraini tapi lepas dua bulan ini, kadang ragu saya begitu meruak. Mana mungkin gaji tidak tetap saya bisa menghidupi dan menyekolahkan mereka," ujar Arismen tertunduk.

Usai mendapatkan uang sebesar Rp650 ribu dari Donatur Dompet Dhuafa Singgalang, dia langsung berangkat ke SMP PGRI 4 Seberang Padang Selatan untuk membayar uang sekolah Anggraini. Untuk mengadvokasi ke SMP tersebut, Tim Dompet Dhuafa Singgalang, Akmal Ahmad mendampinginya.

Bantuan tersebut dibayarkan untuk biaya SPP bulan Juli dan Agustus, uang bangku Rp250 ribu, Baju Muslim  Rp50ribu, Batik Rp70 ribu, dan Baju Olahraga Rp120 ribu.

Kepala SMP PGRI 4 Seberang Padang, Armen Jati, mengatakan bahwa di sekolahnya, tidak ada anak yang tidak sekolah karena kekurangan biaya. 

"Kami akan tampung dan memaksimalkan dana BOS. Ini merupakan komitmen kami terhadap program Wajar 9 tahun. Namun tentu bantuan dari sekolah tidak pula banyak, kami berharap agar masih ada donatur yang siap membantu anak-anak kita yang keluarganya berekonomi lemah. Agar mereka dapat terus bersekolah untuk mewujudkan cita-citanya," ujar Armen.

Kondisi hidup Arisman dan keluarga begitu memprihatinkan. Bagi para donatur yang bersedia membantu pendidikan mereka dapat menyalurkan donasi ke Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang, Jalan Juanda No. 31 C Pasar Pagi Padang, telepon 0751-40098. (winda)

About Author

Advertisement

Posting Komentar

Popular Posts

 
Top