Harianpadang.com-Jebolnya bendungan Gunung Nago akibat banjir bandang, bakal menyebabkan krisis air dan kekeringan ribuan hektare lahan pertanian. Warga berharap pihak terkait dapat mengatasinya.
Lima kelurahan di Kecamatan Kuranji dan Pauh, Kota Padang, terancam kekeringan setelah banjir bandang menghantam wilayah ini Selasa (24/7) lalu. Pasalnya, Bendungan Gunung Nago yang selama ini memasok air bagi sawah dan kebutuhan masyarakat lainnya, jebol digulung air bah.
Pantauan Haluan, Kamis (26/7), dua hari pascabanjir, saluran irigasi dan bandar yang melintasi lima kelurahan terputus dan mengalami kekeringan. Kelurahan tersebut adalah Lambung Bukik (Pauh), Kelurahan Kuranji, Kelurahan Korong Gadang, Kelurahan Kalumbuk dan Kelurahan Sungai Sapih. Jika perbaikan irigasi tak segera dilakukan, ribuan warga terancam kekeringan. Sebab, bandar yang kering juga mengancam sumber mata air sumur-sumur warga. Selain itu, lahan pertanian sawah dan kolam ikan masyarakat juga terancam kekeringan.
“Terakhir kekeringan akibat irigasi jebol ini terjadi 2007 lalu. Lokasinya tak jauh beda yakni di depan SD Lambung Bukik. Akibatnya, kami kekeringan sehingga untuk MCK, kami terpaksa turun ke sungai batang Kuranji,” kata Nurhayati (42), salah seorang warga Korong Gadang kepada Haluan, Kamis (26/7).
Dulu, lanjutnya, untuk mengatasi kekurangan air bersih menjelang perbaikan selesai, PDAM Padang membantu menyuplai air dengan mobil tangki. “Jika besok atau beberapa hari lagi tak pulih, mungkin sumur kami juga kekeringan. Apalagi, pascabanjir, hujan tak turun lagi,” katanya.
Masyarakat Kelurahan Korong Gadang mulai mengeluh susahnya mendapatkan air bersih. Sumber air bersih juga sudah tercemari dan tidak layak dikonsumsi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kota Padang Qori Saidan membenarkan jebolnya bendungan tersebut dan rusaknya saluran irigasi, Menurutnya, kerusakan Bedungan Gunung Nago sangat berpengaruh terhadap irigasi masyarakat setempat.
“Dalam kondisi normal bendungan Gunung Nago bisa mengairi 2.800 hektare sawah petani. Jika bendungan itu jebol, akan berdampak buruk kepada para petani. Pada prinsipnya, kondisi sebuah irigasi primer sangat menentukan,” kata Qori Saidan. Menurutnya, jika bendungan ini tidak secepatnya diperbaiki, maka akan bepengaruh kepada produksi petani, dan akan merembet hingga pada tingkat ketahanan pangan.
Dikatakannya, dari sebelas kecamatan yang ada di Kota Padang, ada beberapa kecamatan yang memiliki kawasan hutan lindung, yaitu Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 3.688 hektare. Lubuk Kilangan memiliki hutan lindung 3.008 hektare, Lubuk Begalung 845 hektare, Nanggalo 386 hektare, dan Pauh seluas 2.303 hektare. Jadi, jumlah hutan lindung yang ada di Kota Padang ada 12.850 hektaree.
“Hutan lindung inilah yang menampung dan mengendalikan air secara alamiah. Kini banyak hutan itu yang telah digunduli,” katanya.
Menurutnya, hutan lindung inilah sebenarnya yang diharapkan melindungi masyarakat dari banjir bandang. Namun, separuh dari daerah hutan lindung yang ada di Kota Padang telah menjadi lahan kritis. “Salah satunya penyebabnya pembalakan liar ataupun disebabkan alam seperti longsor.”
Ia menjelaskan, dari 6.000 hektare hutan lindung yang menjadi lahan kritis di Kota Padang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung merupakan tempat terparah. Kecamatan ini memiliki luas hutan lindung 3.688 hektaree, 1.100 hektaree di antaranya termasuk dalam keadaan kritis. Kecamatan Koto Tangah, Pauh, dan Kuraji juga termasuk daerah yang perlu diperhatikan.
Ia berharap pemerintah secepatnya memperbaiki Bendungan Gunung Nago. Selain itu, ia juga meminta masyarakat bisa belajar dari peristiwa banjir bandang yang terjadi di Kota Padang, terkait tentang betapa pentingnya hutan.
Smentara itu, Mursalim, Camat Kuranji mengatakan, sebagai kepala pemerintah setempat ia sudah melaporkan kejadian ini kepada dinas terkait. Menurutnya, Bendungan Gunung Nago adalah sumber kehidupan masyarakat. Pasalnya, air dari Bendungan Gunung Nago tidak hanya digunakan untuk mengaliri sawah para petani, tetapi juga gunakan masyarakat sebagai MCK.
“Kita sebenarnya tidak mengharapkan Bendungan Gunung Nago jebol. Karena, bendungan ini sumber hajat masyarakat, apalagi para petani. Tetapi apa boleh buat, hal itu di luar dari kemampuan kita. Untuk mengatasi kekeringan yang bisa saja terjadi, kami sangat mengharapkan pemerintah melalui PDAM bisa menyediakan sumber air bersih. Karena perbaikan tentu akan membutuhkan waktu,” katanya. (haluan/yat/ang)
Posting Komentar