harianpadang.com-PADANG - Ryan Saputra, 11, sekilas postur tubuhnya tampak biasa saja, tak jauh beda dengan bocah seusianya yang juga kelas IV SD. Namun, siapa sangka anak kedua dari pasangan Arisman,38, dan Yuli Susanti,31, ini setiap malam harus menahan sakit pada tangan kanannya. "Sering ngilu pada siku dan lengan bagian bawah," ujar Ryan saat Dompet Dhuafa Singgalang mengunjunginya di gudang tumpangan tempatnya berlindung kini, Jalan Batang Arau No 80 dekat Kantor Kepolisian Kelautan Muaro Padang, Kamis (19/7). Didampingi ibunya, Ryan menuturkan, bahwa sakitnya itu berawal dari naas yang menimpanya setahun lalu. Waktu itu, menjelang Magrib, Ryan bersama teman-temannya pergi mengaji. Sembari menunggu waktu magrib, dia dan teman-temannya bermain sambil memanjat tangga yang ada di rumah guru ngaji mereka. Saat itulah musibah menimpanya, Ryan jatuh dan tangannya terhempas keras. Engsel pada sikunya bergeser dan lengan bawahnya pun patah, sakit bukan kepalang langsung dirasakannya. Sambil bercucuran air mata dan menahan sakit, Ryan kembali ke rumahnya yang waktu itu masih mengontrak di daerah Banuaran. "Waktu itu, saya sangat kaget dan panik melihat kondisi Ryan. Dia pun kami bawa langsung ke Rumahsakit swasta di Ganting," jelas ibunya. Malam itu juga, tangan Ryan dirontgen dan dokter menyarankan segera dioperasi agar kondisi tangannya mudah untuk disembuhkan. "Bagi kami sebagai orangtua, tentu ingin yang terbaik. Namun, saat itu kami tak bisa berkata banyak setelah dokter menyampaikan biaya operasi mencapai Rp 15 juta, sedangkan kami tak punya Jamkesda," ungkap Yuli. Diakuinya, dia bersama suami bingung hendak kemana dicari uang sebesar itu. Sebagai kepala keluarga, Arisman sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas di pelabuhan Muaro Padang dengan penghasilan kurang dari Rp 1juta setiap bulannya. Sedangkan Yuli, hanya sebagai ibu rumah tangga saat itu. Empat anak mereka dibesarkan dengan hidup yang sangat pas-pasan. Ryan akhirnya dibawa ke tukang urut saja. Namun sangat disayangkan, sudah 15 kali bolak-balik dan menghabiskan uang hampir Rp 1 juta, tangan Ryan tak kunjung membaik. Padahal, untuk mendapatkan uang berurut mereka sudah harus berhutang kesana-kemari. Sampai uang kontrakan tak mampu mereka bayar. "Dulu kami tinggal di kontrakan daerah Banuaran, namun karena tak sanggup lagi bayar kontrakan yang telah menunggak sampai enam bulan, kami pun terpaksa pindah dan sampai kini masih berutang," terangnya. Kini Arisman dan keluarga menempati hunian yang tadinya gudang kayu dan besi. Baru tiga minggu. Gudang itu terlihat seperti rumah panggung, lantainya dari papan, namun tanpa dinding yang memadai. "Kami harus menempel beberapa terpal agar rumah ini berdinding. Namun, kalau sudah hujan dengan angin kencang, air pasti masuk ke dalam dan membasahi seluruh peralatan rumah tangga, termasuk kasur tempat kami tidur bersama anak-anak," jelas Yuli dengan wajah tertunduk. Ditambahkan suaminya, kalau angin kencang, rumah panggung itu akan bergoyang seperti hendak rubuh, maklum pondasinya memang hanya untuk gudang, tidak tertanam tapi hanya menempel di permukaan saja. Meski begitu, mereka sangat bersyukur bahkan sangat berterimakasih kepada teman yang telah mau memberikan tumpangan, bahkan biaya listrik dan air pun tak perlu pusing mereka pikirkan, sudah ditanggung oleh temannya itu. "Teman saya bilang agar upah saya sebagai buruh dikumpulkan saja untuk bisa mengontrak rumah yang layak. Istri saya juga dibolehkan bekerja sebagai pencuci piring di warung pecel lele miliknya," terang Arisman. Memang, jika berharap dari upah yang didapatkan suami, sangat berat untuk bisa bertahan hidup bersama empat orang anak. Dulu, biaya kontrakan Rp400 ribu perbulan, belum lagi biaya hidup dan kebutuhan sekolah tiga anaknya. Si sulung Anggraini Putri, 13, baru saja lulus SD, sekarang terpaksa ditunda pendaftarannya masuk ke SMP karena butuh biaya masuk Rp650 ribu, padahal masa pendaftaran sudah tutup, ancaman putus sekolah sudah di depan mata. Anak yang ketiga Sandy Prasetya, 10, kelas II SD, satu sekolah dengan Ryan di SDN 02 Pulau Karam Padang. Sedangkan si bungsu Pasya Rahman, masih barusia 3,5 tahun. Hampir setiap hari, Angraini, Ryan dan Sandy terpaksa harus menjadi pemulung besi, di sekitaran Muaro Padang. Bahkan ketiganya juga jadi juru parkir di salah satu kantor pemerintahan yang bergerak di bidang pembangunan dekat rumah mereka. Ketika ketiganya ditanya tentang itu, mereka menjawab polos, "Kami ingin menabung agar tetap bisa bersekolah," ujar mereka nyaris serempak. Anggraini bercita-cita ingin jadi pramugari, motivasinya sederhana, karena ingin naik pesawat terbang. Sedangkan Sandy dan Ryan mereka sepakat untuk menjadi tentara, keduanya menjawab dengan mantap. Sedangkan, si bungsu Pasya, bocah 3,5 tahun itu tampak senyum-senyum saja saat ditanya tentang cita-citanya. Bantuan Awal Dompet Dhuafa Singgalang Pada hari itu juga, Dompet Dhuafa Singgalang menyerahkan bantuan tahap awal bagi keluarga Arisman dan Yuli sebesar Rp250 ribu. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh penanggung jawab Program Relief Dompet Dhuafa Singgalang, Akmal Ahmad. "Semoga dengan bantuan ini, Ryan dapat memeriksakan kembali tangannya ke Rumahsakit. Kita di Dompet Dhuafa Singgalang, insyaAllah mulai hari ini akan mencoba menggalang dana dari masyarakat untuk biaya operasi Ryan," tukas Akmal. Tidak hanya kondisi Ryan yang memprihatinkan, ketiga lainnya bahkan sangat membutuhkan uluran tangan. Bagi para donatur yang bersedia membantu dapat menyalurkan donasi ke Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang, Jalan Juanda No. 31 C Pasar Pagi Padang, telepon 0751-40098. (Akmal Ahmad)
About Author
The part time Blogger love to blog on various categories like Web Development, SEO Guide, Tips and Tricks, Android Stuff, etc including Linux Hacking Tricks and tips. A Blogger Template Designer; designed many popular themes.
Advertisement
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
HarianPadang.com -Untuk menjaga suasana kondusif selama Ramadhan, Pol PP Padang terus merazia penyakit masyarakat (pekat). Rabu dini har...
-
mobil yang digunakan mesum oleh siswi SMA 9 Padang Harianpadangcom- Siswi SMA 9 Padang dalam mobil (sedan Honda BA 466 UM ) di...
-
Harian Padang- SIJUNJUNG — Andri Yulisepri Andika (19) dan Bayu (19) terancam hukuman mati karena melakukan pembunuhan berencana terhadap...
-
HarianPadang.com -Unjuk rasa mahasiswa Fakultas Teknik Pertanian Universitas Andalas (Fateta Unand) Senin (3/12) kembali terjadi. Aksi y...
-
Belakangan ini, banyak sekali kalangan selebriti yang satu persatu memutuskan untuk menggunakan hijab. Setelah beberapa waktu lalu Shiree...
-
Harianpadang.com-PADANG, Sepasang kekasih tanpa status ditangkap masyarakat, saat berhubungan mesum di rumah cowoknya di kawasan Ampan...
-
ROMA -- Seorang pekerja bantuan asal Italia, Silvia Romano telah menjadi mualaf selama 18 bulan penahanan oleh militan Somalia. Dia mengat...
-
Oleh Riwayat Guru PAI SMPN 21 Padang Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka tunggulah hari ketika langit membawa ka...
-
harianpadang.net-Memasuki hari kedua penerapan Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 (TNBPAC) di Sumatra Barat (Sumbar), lonjakan...
-
Pemerintahan Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung mengusulkan 754 Kartu Keluarga (KK) sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) K...
Posting Komentar