Oleh:
Riwayat
Pendidik
PAI di SMPN 21 Padang
Islam
adalah agama toleransi. Agama yang dalam ajarannya menghargai keyakinan orang
lain. Sebagai agama toleran Islam tidak memaksakan kehendak . tidak memaksakan
agama kepada orang yang sudah beragama. Intinya dimanapun Islam hadir membawa
rahmat bagi seluruh umat. Hal ini ditekankan oleh Allah dalam firman-Nya
serbagai berikut. Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.(QS. A-Anbiya: 107).
Dari
firman Allah tersebut jelaslah bahwa Islam adalah agama yang mementingkan
perdamaian, mementingkan kemanusiaan, ketenangan semua makhluk. Kekerasan,
keonaran, membuat gelisah dan mengintimidasi orang lain, umat lain, bukanlah
perilaku Islami. Ajaran Islam tidak mendukung dan tidak mengajarkan umatnya
untuk melakukan kerusakan, kegelisahan terhadap makhluk ciptaan-Nya.
Sebagai
umat yang membawa rahmat bagi seluruh alam, tentu suatu kehormatan dan amanah
yang hendaknya kita jaga dan kita pelihara agar kemuliaan Islam tidak rusak dan
hina di mata pemeluk agama lain, hanya akibat perilaku keberagamaan kita yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Tidaklah patut sesama muslim saling membenci, saling
menghalangi dalam mencari rezeki.
Perlu
disadari bahwa Islam mengajarkan dan mengenalkan kepada umatnya bahwa manusia
diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Dengan beragam asal, budaya, suku sudah tentu
akan berbeda pula acara pandang, sopan santunya, bahasanya, ekonominya, bahkan
kepercayaannya. “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa
- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.
Al-Hujarat: 13)
Yang
penting bagi kita umat Islam adalah menghargai perbedaan tersebut. Yang perlu
kita pegang sebagai acuan toleransi dalam beragama adalah al-Quran, terutama
surat al- Kafirun. “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku."(QS. Al-Kafirun: 1-6)
Jika halnya demikian, siapapun orangnya,
apapun suku dan bahasanya, asalkan tidak menganggu Islam, hendaknya kita terima
dengan lapang dada. Sebab kita berada di negara yang beragama. Menghormati dan menghargai keberadaan mereka. Tidak patut
kita menolak kelompok tertentu hanya karena agamanya, asal sukunya, ras,
sakwasangka dan warna kulitnya. Hati-hati boleh, tetapi kalau sudah buruk sangka, maka ujung-ujungnya adalah
dosa. Hal ini telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, bahwa sebagian dari
sakwasangka, prasangka, buruk sangka adalah dosa.
“ Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. Al- Hujarat: 12).
Islam dengan jelas
mengajarkan untuk menjauhi buruk sangka, sebab buruk sangka bukanlah ajaran Islam,
Islam mengajarkan prasangka baik, berpikir positif. Jika kita sebagai umat Islam
selalu mengedepankan sikap dan perilaku yang negatif dalam berfikir, buruk
sangka terhadap orang lain, maka hal itu malah akan memperburuk citra kita
sebagai umat Islam. Kita akan dianggap sebagai pemeluk yang tidak toleran. Jika
halnya demikian, membiasakan berfikir positif lebih utama dibandingkan berfikir
negatif. Untuk itu saatnya kita membiasakan dan membu dayakan berfikir positif dan menjauhkan diri dari
berfikir negatif dan berburuk sangka.
Sudah saatnya kita mewujudkan Islam yang ramah, Islam yang rahmat bagi semesta
alam. Jika hal ini telah mendarahdaging di dalam diri kita, maka tidak akan ada lagi rasa curiga diantara kita,
tidak ada pikiran negatif kita terhadap orang lain.terhadap kepercayaan orang
lain, sebab Islam mengajarkan untuk menghargai dan menghormati agama orang
lain.
Bukankan Allah telah
mengingatkan kita agar berlaku adil. Kita dilarang berlaku tidak adil hanya
karena kebencian kita terhadap suatu kaum. Kebencian terkadang membuat kita
tidak adil terhadap orang lain, padahal ajaran Islam tidak mengajarkan hal yang
demikian. Sebaliknya Islam malah melarang umatnya berlaku tidak adil terhadap
suatu kaum hanya karena kebencian. "Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran".( QS
An-Nahl: 90)
Dari terjemahan surat
An-Nahl ayat 90, kita belajar untuk tidak berlaku keji, mungkar dan permusuhan.
Kekejian terhadap diri, dan orang lain, seagama maupun beda agama. Kita juga
dilarang berbuat mungkar, berbuat onar, mencari musuh, baik musuh seagama, beda
agama, maupun beda profesi. Islam
adalaha agama damai, agama yang membenci permusuhan, maka enyahkanlah
benih-benih perumusuhan yang ada dalam diri kita. isilah hati kita dengan
benih-benih kasih sayang. Kemudian tebarkanlah benih-benih kebaikan, benih
kasih sayang kepada semua makhluk Allah di alam raya ini. jika hal ini kita
lakukan, maka sebenarnya kita telah mensyiarkan agama Islam di dunia ini.

Posting Komentar