admin admin Author
Title: RD: Melatih Tim Sepakbola Ibarat Memimpin Unit Pasukan Khusus
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
Harian Padang- Hanya empat tim yang pernah merasakan tangan dingin Rahmad Darmawan sepanjang karier melatihnya di level profesional sepak...
Harian Padang-Hanya empat tim yang pernah merasakan tangan dingin Rahmad Darmawan sepanjang karier melatihnya di level profesional sepakbola Indonesia. Persikota, Persipura, Arema Malang dan Persebaya. Semua nyaris punya kesamaan sebagai pemicu, mencari tantangan baru di luar karier militer yang masih dijalaninya kini.

Tapi, lompatan terbesar Mayor TNI AL ini adalah saat menerima tawaran melatih di Persipura pada 2005, usai delapan musim bersama Persikota. Di Jayapura, RD menemukan banyak pelajaran hidup yang kian menegaskan, lapangan hijau adalah jalan hidupnya. Baik ketika menghadapi lingkungan, maupun rasa kangen pada keluarga.

Tapi tak ada yang mengira jika RD kecil yang gemar bermain bola plastik di Metro Lampung, akan menjadi sosok ternama di Nusantara. Pesan orang tua untuk membatasi hobi ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, disiasati dengan mencari universitas yang punya tim sepakbola. Pencarian itu berujung pada terdamparnya Rahmad Darmawan muda ke IKIP Jakarta, kini Universitas Negeri Jakarta.

Program studi yang dipilih juga tidak jauh-jauh, Fakultas Olahraga. RD seolah ingin membuktikan, hobi bisa jadi jalan hidup jika dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Tekad itu juga yang membuka jalan terang ketika kemampuan RD dipantau E.A Mangindaan, ketua umum PS ABRI di pertengahan tahun 1980-an. Tim yang dipersiapkan mengikuti kompetisi Galatama, salah satu kompetisi di jalur profesional selain perserikatan di jalur amatir sebelum akhirnya batal bergabung.  

Hikmahnya, RD lebih fokus tampil di SEA Games Kuala Lumpur. Pada awal 90-an, dia menjadi salah satu pemain yang mencicipi kompetisi luar negeri bersama Robby darwis dan Ricky Yacob, dua rekannya di timnas Indonesia. Kini, buah perjalanan hidup selama dua dekade ingin diaplikasikan dengan niat ibadah demi prestasi untuk Indonesia.

Lewat program #CornerAsk, VIVAbola berusaha memuaskan rasa ingin tahu para pembaca terhadap sosok RD. Berikut 10 pertanyaan terbaik yang dipilih redaksi dan telah mendapat jawaban langsung dari perwira TNI AL berpangkat Mayor ini.
 
1. @salbi_elmaliki
Coach, sepenting apa sih sepakbola bagi hidup anda? Apa anda merasa nyaman dengan sepakbola? 
 
Dari sepakbola, saya sudah mendapatkan semuanya. Sekolah gratis sampai jadi prajurit TNI. Bahkan sepakbola juga yang membuka jalan saya diterima di militer. Bisa dibilang, sepakbola sudah soulmate dengan saya ke manapun kaki melangkah. Saya masuk, kalau sekarang sekolah perwira karier, karena memperkuat Timnas Indonesia di SEA Games 1989 setelah menuntaskan skripsi. Sepakbola juga yang membuat saya bisa memperkuat Army Force, salah satu klub di liga Malaysia di tahun 1992.
 
Dibilang nyaman, tentu sangat nyaman. Saya sudah menemukan hampir semua yang saya cari sejak memilih sepakbola sebagai jalan hidup. Dari dipanggil Tim PON Lampung di tahun 1985 sampai menemukan seninya dalam membangun pertemanan dengan semua kalangan. Bisa disebut, banyak inspirasi hidup yang saya ambil dari sepakbola. Mulai dari pemahaman terhadap teman seprofesi, sampai lingkungan.
 
2. @DameManurung20
Coach RD, mengapa Anda memilih menjadi pelatih? Serta apa yang memotivasi Anda menjadi seorang pelatih? 
 
Saya pensiun jadi pemain di tahun 1998 akibat cedera ketika memperkuat Persikota. Tapi selama dua musim, selain jadi pemain saya juga mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan melatih klub amatir. Itu yang jadi salah satu dasar saya menerjuni dunia kepelatihan. Awalnya sih hanya menjadi asisten almarhum Andi Lala di Persikota. Begitu juga ketika Persikota ganti pelatih ke Bang Sutan Harhara, saya masih dipercaya jadi asistennya.
 
Dari dua pengalaman itu, ada pelajaran yang saya ambil. Ternyata, materi di bangku kuliah belum terspesifikasi. Ilmu kepelatihan di perguruan tinggi kala itu sangat mendasar dan global. Perubahan signifikan baru saya rasakan ketika menjadi asisten Henk Wullems, pelatih asal Belanda yang hanya setengah musim di Persikota sebelum pindah ke Arema Malang. Akhirnya manajemen Persikota saat itu menunjuk saya jadi pelatih kepala sekaligus resminya jadi pelatih profesional.
 
Motivasi, saya ingin memberikan yang terbaik berlandaskan pada ibadah. Termasuk untuk Indonesia. Keinginan tertinggi tentu saja memberikan medali emas atau juara di level internasional untuk Indonesia. Niat itu yang jadi motivasi terbesar dan tinggi ketika saya putuskan melatih Persipura. Itu keputusan luar biasa yang saya ambil meski dapat tentangan dari banyak pihak, termasuk keluarga.
 
Bayangkan saja, saya harus tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil melatih di daerah yang belum pernah saya injak. Apalagi situasi saat itu sedang tidak kondusif. Tapi setelah 4 bulan di Jayapura, saya temukan cara dengan intens komunikasi. Pokoknya banyak pelajaran yang saya dapat di Persipura. Bagaimana harus bersikap jadi pelatih sekaligus jadi ayah. Bahkan terkadang harus siap jadi teman, kakak atau adik. Prinsipnya, kita harus komitmen antara perbuatan dengan perkataan. Itu mudah dijalankan jika dilandasi dengan ibadah.
 
3. @DediDlukman
Visi sepak bola Indonesia harus seperti apa agar bisa bersaing di kancah internasional?
 
Visi sepakbola, harus memberi respek kepada semuanya. Baik teman, lawan, pelatih, offisial maupun suporter. Sepakbola mungkin hanya 30 atau 40 orang yang terlibat dalam satu tim tapi efeknya bisa ratusan ribu bahkan jutaan orang. Itu yang harus disadari.
 
Saya yakin kita bisa bersaing jika ada kompetisi reguler untuk segala umur. Dan itu harus didukung pemerintah dengan menyiapkan infrastruktur. Ingat, bagaimana Spanyol menjadi kekuatan hebat baru di tahun 2008 ketika menjuarai Piala Eropa dan dilanjut Piala Dunia. Itu karena tim sudah dipersiapkan sejak usia dini. Cara-cara itu yang kini diterapkan di Jepang dan beberapa negara Asean lainnya. Saya sangat salut dengan program PSSI melalui BTN (Badan Tim Nasional) yang memutar kompetisi kelompok umur.
 
4.@endollbuell
Coach, pola permainan seperti apa yang bisa mengantarkan TIMNAS INA ke ajang Piala Dunia? Apa mungkin? 
 
Tidak ada yang tak mungkin kalau kita landasi dengan kepercayaan kuat seperti ibadah. Spanyol jadi contoh nyata. Banyak potensi besar di sana. Tapi sebelum tahun 2000-an, mereka tidak pernah merasakan gelar juara Piala Eropa dan Piala Dunia. Karena itu, timnas harus dibangun secara terprogram sejak dini.
 
Tidak bisa memaksakan level seseorang untuk tampil maksimal jika tidak ada data sejak dini. Mungkin timnas senior saat ini cukup berjalan tapi harapan tinggi ada pada level yunior. Seperti Timnas U-19. Parameternya jelas agar bisa maksimal. Selain kebugaran, kualitas juga kebutuhan tim sesuai skema pelatih. Plus mental sebagai faktor non teknis terpenting. Saya ibaratkan jadi pelatih timnas itu seperti memimpin satu unit pasukan khusus. Kumpulan sedikit tapi dampaknya sangat besar pada bangsa Indonesia. Itu yang saya terapkan ketika dipercaya membawa Indonesia melawan Turkmenistan di pra kualifikasi Piala Dunia. Kompetisi libur dan hanya punya masa persiapan 10 hari.
 
Begitu juga ketika melawan Arab Saudi. Saya hanya punya waktu 5 hari dan harus seleksi 53 pemain untuk memilih 23 nama. Dua hari seleksi, baru persiapan. Waktu itu kita kalah 2-1. Namun perasaan saya, tidak pernah memegang timnas senior karena saya tugas negara dan wajib memenuhi karena dipanggil dalam keadaan darurat.
 
5. @dMasbayu
Coach RD kan berasal dari Lampung, kenapa gak jadi pelatih untuk daerahnya sendiri? 
 
Saya sudah berusaha bahkan sempat berkomunikasi dengan sebuah klub ISL untuk berhome base di Lampung. Tapi dalam prosesnya gagal. Pelajaran yang saya petik, membangun sepakbola tidak bisa secara instan. Harus dimulai dari bawah. Itu yang saya lakukan sekarang dengan beberapa teman, mendirikan SSB yang punya fasilitas dan persiapan layak. Banyak potensi di Lampung yang belum terlihat. Purwaka Yudi dan Purwanto Suwondo, merupakan contoh pemain asal Lampung yang tenar di level nasional. Belum lagi nama-nama di era sebelumnya.
 
6 @habibieBARTMAN
Kenapa anda memilih persebaya surabaya, padahal kan masih banyak klub yang lain yang memerlukan pelatih seperti anda? 
 
Tantangan. Sebagai klub promosi Divisi Utama dan adanya dualisme klub tidak mengurangi keyakinan bahwa Persebaya punya potensi dan prospek luar biasa di masa mendatang. Itu jadi dasar saya menerima tawaran melatih di Surabaya dibanding klub lain.   
 
7. @kabardlingo
Menurut Sdr RD, Apa yg salah dari Indonesia sehingga sampai saat ini blm pernah ikut kontestan Piala Dunia, juara Asia aja belum?
 
Seperti yang saya terangkan sebelumnya. Tidak bisa PSSI membangun kekuatan timnas secara instan. Semua itu harus dilakukan sejak dini. Didukung kompetisi reguler kelompok umur, saya yakin piala dunia bisa kita ikuti di masa mendatang. Lihat saja Jepang. Di tahun 1990-an, kompetisi mereka masih amatir. Tapi kini, jadi kekuatan Asia. China mengarah kesana, begitu juga Thailand, Myanmar dan Vietnam.
 
8. @HancoLeuh
Ingin lihat sepak bola indonesia, baik fans/pemain tidak ricuh. Bagaimana coach mengaplikasikan fair play agar tdk rusuh? 
 
Selama jadi pemain dan pelatih, saya sebisa mungkin tularkan sepakbola sportif. Kampanye sepakbola jauh dari kekerasan harus didukung semua elemen tim di Indonesia. Cara termudah, dengan menghargai profesi. Jika pemain dan pelatih punya sikap seperti ini, tidak akan ada lagi cara-cara tidak sportif di lapangan .
 
Soal suporter, sebenarnya itu bukan wilayahnya pelatih atau pemain. Tapi edukasi dengan menghargai profesi bisa meredam emosi yang dapat meniadakan kericuhan antarsuporter. Media juga jadi elemen penting untuk menghilangkan persoalan ini. Termasuk peran untuk membangun rekonsiliasi antarkelompok suporter di Indonesia.

9. @kunakuh
Menurut coach RD hal kecil apa yang bisa mengubah sepakbola kita jadi lebih baik?

Ikuti aturan main. Contoh kecil, keputusan wasit apapun itu harus dihormati. Ada aturan jika keberatan dengan keputusan itu diserahkan kepada otoritas yang berwenang.
 
10. @citrooo 
Coach, lebih berat tugas sebagai tentara atau jadi pelatih timnas? tolong dijelaskan ya coach?  
 
Karakter saya sangat terbantu dengan mengikuti pendidikan militer. Didemo suporter ketika melatih klub sampai konflik dengan manajemen misalnya, itu masih lebih buruk dari yang saya alami. Apa itu? Pendidikan militer! Saya jadi pelatih juga bagian dari tugas militer. Tidak mungkin saya melatih tanpa ada surat tugas dari atasan.
 
Tapi kalau dinilai berat mana, sepakbola berat sekali tugasnya. Karena efeknya pada banyak orang yang bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Tapi dengan status sebagai prajurit TNI AL, secara tidak langsung, saya juga ikut harumkan nama korps jika sukses melatih baik di klub maupun timnas.

About Author

Advertisement

Posting Komentar

Popular Posts

 
Top