Oleh: Rizki Ikhwan
(Pemerhati Pendidikan dan Aktifis Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan V, Penempatan Kabupaten Muna Sulawesi
Tenggara)
harianpadang.com-Sebuah
hal yang wajar sekiranya segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap orang secara terus menerus dengan pola dan bentuk
yang sama tanpa adanya perubahan dan pembaharuan tentunya akan menimbulkan
kejenuhan dan kebosanan.
Kebosanan itu muncul karena tidak adanya kreatifitas
dan tetap berada dalam satu titik yang statis sehingga perkembangan
bentuk-bentuk yang baru tidak bisa dicapai dengan significant. Hal ini banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari,
baik didalam dunia kerja, dirumah tangga, termasuk didalam dunia pendidikan.
Banyak targetan-targetan yang terkadang
tidak tercapai, karena ketika melakukan kerja atau suatu hal tersebut tidak
maksimal sehingga bisa terhenti ditengah jalan karena satu permasalahan yang
timbul tadi, yaitu kejenuhan atau kebosanan.
Jika permasalahan diatas ketika kita
temui dalam dunia pendidikan atau di lingkungan sekolah, maka hal tersebut
adalah sebuah epidemic atau wabah
yang mesti segera diatasi atau harus dibersihkan. Hari ini lingkungan sekolah
beserta seluruh perangkatnya mesti segera berbenah. Jangan sampai sekolah
menjadi tempat yang membosankan bagi siswa. Ketika sekolah tidak lagi menjadi
tempat yang menyenangkan bagi siswa. Tentunya hasil dari proses belajar yang
dilakukan siswa tersebut tidak membuahkan hasil atau mendapatkan hasil yang
maksimal. Targetan hasil belajar yang sudah dirancang oleh guru untuk diberikan
kepada siswa, mesti mempunyai pola proses pembelajaran yang menarik, jangan
sampai metode ajar yang disuguhkan oleh guru adalah model kuno yang tidak
menarik hati siswa, sehingga belajar di kelas terkesan monotone yang akhirnya memunculkan virus jenuh tadi.
Dengan latar belakang permasalahan
di atas, lantas bagaimana cara guru untuk melakukan pembelajaran menarik dan
kreatif, sehingga siswa benar-benar antusias dan merasa senang dalam mengikuti
proses pembelajaran tersebut. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan
menerapkan program “Literasi”. Apa itu program literasi?, dan bagaimana cara
penerapannya di dalam proses pembelajaran?. Secara penerapan, program atau
pembelajaran literasi adalah proses belajar dengan mengintegrasikan materi ajar
ke dalam lingkup aktifitas di luar kelas yang bersifat aplikatif dan
berhubungan langsung dengan dunia luar. Pembelajaran ini hampir serupa dengan
praktek lapangan tetapi tentunya memiliki beberapa perbedaan cara penerapan dan
perbedaan tujuan. Sementara jika dibandingkan dengan penerapan pemebelajaran di
kelas, model ini jelas memiliki perbedaan. Literasi banyak mengambil tempat di
luar kelas dan tidak melakukan pembelajaran tatap muka langsung antara guru dan
siswa seperti biasanya.
Dari kriteria penerapan, program
literasi ini bisa disajikan atau diberikan kepada siswa dalam beberapa bentuk.
Diantaranya seperti wisata ilmu, pengenalan profesi, jelajah alam, kunjungan
sosial, kunjungan tempat bersejarah dan berbagai bentuk pembelajaran lainnya.
Beberapa bentuk diatas sendainya diterangkan di kelas hanya berpedoman kepada
buku dan disampaikan secara satu arah dari guru ke murid, tentunya tidak begitu
menarik dan siswa pun barangkali hanya tau secara teori dan menyerap
pengetahuan hanya dari buku. Tetapi jika dilakukan model yang aplikatif,
tentunya siswa menjadi antusias sehingga mereka mudah meyerap
pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak hanya tertera di buku. Sebagai contoh
misalnya pengenalan profesi, yaitu profesi tentara. Jika profesi ini dikenalkan
kepada siswa melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan bersumber kepada
buku, maka yang bisa dipahami oleh siswa, tentara adalah sebuah profesi atau
pekerjaan yang tugasnya pergi berperang. Tetapi jika pembelajaran profesi ini
dibawakan secara literasi dengan berkunjung ke tempat atau markasnya tentara
bertugas, seperti Koramil, Korem atau yang lainnya, maka siswa akan mendapatkan
begitu banyak pengetahuan. Mulai dari tugas tentara itu sendiri, pakaian
tentara seperti apa?, senjata yang mereka gunakan seperti apa?, jika tidak ada
tentara apa yang akan terjadi?, dan berbagai info lainnya yang bisa menambah
pengetahuan baru bagi siswa. Kunjungan tersebut bukan hanya menambah pengetahuan
baru siswa, tetai bisa juga memotivasi siswa untuk bercita-cita mulia menjadi
tentara, sehingga dengan begitu pada akhirnya mereka bisa bersemangat untuk
sekolah dan untuk menggapai cita-citanya. Jadi secara tidak langsung, bisa kita
pahami bahwa dengan pembelajaran seperti ini (red: Literasi), guru mampu
menarik perhatian lebih dari siswa untuk belajar. Sehingga materi ajar pun
dapat berterima dengan baik.
Dengan beberapa contoh pembelajaran
literasi dan penerapannya tersebut, tentunya para guru juga bisa menggali lebih
banyak cara untuk menyajikan materi ajarnya kepada murid. Karena sejatinya,
guru harus kreatif dan inovatif. Jika guru sudah kreatif, tentunya siswa
menjadi antusias untuk mengikuti pelajaran. Ketika sudah ada interaksi yang
positif antara guru dan murid, tentunya akan tercipta hasil belajar yang baik
dari proses pendidikan itu sendiri. Dan untuk mendapatkan hasil yang terbaik,
tentunya guru tidak boleh merasa puas dengan hasil yang didapat, dan mesti
terus berbenah, menggali berbagai macam perbaikan dan inovasi. Karena ilmu
pengetahuan itu dinamis dan terus berkembang.
Pulau
Bangko, 5 November 2014

Posting Komentar