Oleh : Riwayat
(Pendidik di SMPN 21 Padang)
Harianpadang.com-Benarkah akhlak menjadi kunci sukses
seseorang dunia akherat? Apakah akhlak mempunyai eksistensi penting dalam
Islam? Apakah akhlak menjadi penentu bagi seseorang untuk masuk surga? Bukankah
cukup hanya dengan iman, dan banyak beribadah kita dapat masuk surga? Apakah
benar tujuan dari berbagai ibadah dalam Islam, seperti puasa, zakat, salat dan
haji untuk membentuk akhlakmulia? Apakah
tanpa akhlak mulia ibadah kita sia-sia?
Untuk menjawab semua pertanyaan di
atas, perlu kita telusuri dalam Al-Quran dan hadis, ternyata banyak hadis dan
ayat yang secara langsung maupun tidak langsung menghubungkan antara ritual/ibadah
pembentukan pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita perhatikan dari
berbagai ritual dalam Islam, ternyata semuanya selalu berhubungan dengan pembentukan
akhlak mulia. Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak
manusia,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,”(HR.
Ahmad).
Hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw
di utus untuk memperbaiki akhlak manusia, mungkin kita akan bertanya apakah Rasulullah Saw di utus hanya untuk
memperbaiki dan menyempurnakan akhlak? Tentu tidak hanya untuk itu saja, tetapi
pada dasarnya syariat yang dibawa para Rasul bermuara pada pembentukan akhlak. Apakah
manusia tidak mampu memperbaiki akhlaknya sendiri, sehingga perlu diutus
seorang Rasul? Bukankah manusia dibekali akal? Dengan akalnya manusia dapat
menentukan mana yang baik dan mana yang buruk?
Mungkin di satu sisi argument tersebut ada benarnya, tetapi akal manusia
terbatas, kalau akal dapat menentukan baik dan buruk tentunya Allah tidak perlu
lagi menurunkan kitab-kitabnya, tidak perlu mengutus para Nabi untuk
menjelaskan ayat-ayat-Nya?
Allah sangat peduli kepada manusia, Allah
sangat tahu kemampuan manusia, meskipun diberi akal manusia tetap makhluk yang
lemah, pengetahuannya terbatas. Sehingga Allah perlu mengutus Nabi dan Rasul
untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya dan menunjukkan manusia jalan yang lurus, dan
akhlak yang mulia.
Buktinya, Rasulullah Saw di utus untuk menjadi
rahmat bagi seluruh alam,”Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai
rahmat bagi seluruh alam,”(QS. Al-Ambiya : 107). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa
Rasulullah di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmat tidak akan
dirasakan oleh makhluk di bumi kecuali dengan akhlak mulia, untuk mewujudkan
rahmat itu Allah menurunkan kitab-kitabnya, dan mengutus para Rasul dan Nabi untuk
menjelaskan kitab-kitab-Nya. Konsekuensi dari turunnya kitab-kitab Allah dan di
utusnya para Nabi dan Rasul adalah adanya hokum/ Syariat yang mengatur hubungan
antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan
manusia dengan lingkungannya.
Berbagai ritual diperintahkan Allah
melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak,
seperti dalam perintah salat,”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu
mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45). Ayat tersebut
secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi
yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya
manusia berakhlak mulia, bahkan kalau
kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu,
seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu,
intinya salat dipersiapkan untuk membentuk
sikap manusia selalu bersih,
patuh, taat peraturan dan melatih
seseorang untuk tepat waktu.
Dalam hadis qudsi Allah Swt.
Berfirman,”Sesungguhnya Aku menerima salat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusuk karena
kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugrah dari salatnya karena sebagai
hamba-Ku, ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan
waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil,
mengasihi diri, dan menyantuni orang terkena musibah,”(HR. Azzubaidi).
Ternyata, Allah menerima salat seseorang bukan karena sebagai hamba, tetapi
lebih kepada kemuliaan akhlaknya, seperti ikhlas tanpa pamrih, tidak bekerja
karena atasan, menyantuni anak yatim, orang miskin, orang yang terkena musibah,
tidak bermaksiat. Bila akhlak kita belum baik, maka salat belum di terima,
bahkan ada kemungkinan kita termasuk orang-orang tidak berakhlak, lebih dari
itu, jika kita belum mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebenarnya
kita telah gagal dalam ritual salat, dan kepribadian kita diragukan.
Tujuan membayar zakat selain
membersih harta juga mendidik kita berjiwa social, ’Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,”(QS.
At-Taubah : 103). Bahkan kalau kita mengahardik anak yatim, malas dalam
mengerjakan salat, riya dalam mengerjakan, tidak memberi makan orang miskin,
serta tidak memberi pertolongan dengan barang berharga kita dianggap sebagai
pendusta agama (QS. Al-Maun : 1-7).
Bila kita sudah dianggap sebagai pendusta agama, sia-sialah
ibadah kita, kesia-siaan itu akibat kita tidak berakhlak, dikatakan tidak
berakhlak karena kita menghardik anak yatim, tidak memberi pertologan dengan
barang berguna. Ternyata akhlak sangat menentukan keagamaan seseorang, kalau
akhlaknya baik maka baik pula ritual
agamanya, sebaliknya jika akhlaknya buruk maka buruk pula ibadah ritual agamannya.
Sebagai contoh meskipun kita salat, tetapi suka menghardik, zalim terhadap anak
yatim, tidak menolong orang miskin, maka Allah menganggap kita sebagai pendusta agama.
Ritual puasa bertujuan membentuk
akhlak mulai, bila sedang berpuasa, kita dilarang mencaci, bergunjing,
berbohong, berbuat maksiat, berkata kotor,”Jika salah seorang di antaramu melaksanakan
puasa, maka janganlah berkata kotor, menipu, jika seseorang mencelamu atau
hendak membunuhmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang puasa,” (HR.
Muslim). Ternyata ritual puasa disiapkan untuk mendidik dan membentuk kita agar berperilaku terpuji, sebuah
kepribadian yang mencerminkan sebagai muslim berakhlak mulia.
Ibadah haji sebagai ritual dalam
Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat
kita ketahui dari berbagai larangan selama pelaksanaan haji berlangsung, seperti
larangan membunuh binatang, berkata kotor, berbuat keji, fasik, bertengkar,
bergunjing, saling berbantahan, mencuri dan berbagai tindakan maksiat lainnya,
demikian juga hikmah ritual haji di antaranya adalah saling pengertian, ras tanggung
jawab, persamaan hak, saling menghargai, berfikir universal,persaudaraan
universal dan bersabar dalam berbagai situasi,“Haji adalah bulan yang
dimaklumi, siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji,
maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantahan di dalam masa
mengerjakan haji,” (QS. Al_Baqarah : 197). Dalam haji kita didik untuk meninggalkan perbuatan asusila,
maksiat, dan berbagai tindakan amoral lainnya, ini semua merupakan bukti bahwa ibadah
haji dipersiapkan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Bila dalam ibadah
haji berperilaku tercela maka ibadah haji kita secara spiritual akan sia-sia. Tidak
bernilai spiritual di sisi Allah, haji kita hanya menjadi sebuah plesiran untuk menghilangkan kejenuhan sehari-hari
tanpa memberi arti.
Akhlak juga dapat menentukan beriman
atau tidaknya seseorang,”Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak
beriman, demi Allah ia tidak beriman. Para sahabat
bertanya,’siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : orang yang
tidak menyimpan rahasia kejelekkan tetangganya,’ (HR. Muslim). Hadis tersebut secara nyata mengandung arti
bahwa secara meyakinkan orang yang berakhlak buruk kepada tetangganya oleh
Rasulullah dianggap tidak beriman, selama ini mungkin kita menganggap perbuatan
jahat kita kepada orang lain atau tetangga sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu
yang tidak akan berpengaruh pada eksistensi keimanan, padahal kalau kita mengetahui,
ternyata berakhlak jelek sangat besar pengaruhnya
terhadap keimanan.
Bahkan, manusia paling jelek di sisi
Allah pada hari kiamat adalah manusia berakhlak jelek,”Sesungguhnya manusia
paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang ditinggalkan
orang lain karena menghindari kejelekannya,”(HR. Bukhari). Ternyata Allah
mengolongkan manusia yang tidak
berakhlak termasuk manusia yang paling jelek di hadapan-Nya. Sebaliknya
orang paling dicintai oleh Rasulullah adalah yang paling baik akhlaknya. orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat
adalah orang yang paling baik akhlaknya,”HR. At-Tirmidzi).
Ternyata, orang mukmin yang sempurna
imannya bukan karena banyak ibadahnya, tetapi yang baik akhlaknya,”Orang mukmin
yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu
Daud). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa kita belum sampai kepada
kebajikan yang sempurna sebelum kita menafkahkan harta yang kita cintai,
menafkahkan harta kepada orang yang sangat memerlukan adalah wujud dari
kesantunan dan kedermawanan seseorang, dan sikap itu merupakan bukti kemuliaan akhlaknya,”Kamu
sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempuran sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran : 92).
Demikian juga, orang bertakwa dan
berakhlak mulia dijamin masuk surga,”Penyebab utama masuknya manusia ke surga
karena bertakwa kepada Allah dan kemulian akhlaknya,” (HR. Tirmidzi). Biasanya orang bertakwa
akan berbuat dan bersikap baik dan mengutamakan akhlak mulia, perbuatan baik merupakan
wujud kemuliaan akhlaknya, sedangkan
perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk,”Sesungguhnya,
perbuatan-perbuatan (Akhlak) yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan
buruk,”(QS. Hud : 114). Ternyata keberhasilan ritual seseorang di sisi Allah
dilihat dari sejauh mana ia telah menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.
Untuk mengakhiri tulisan ini perlu
kita merenungi salah satu contoh akhlak mulia yang mengantarkan seorang hamba
dekat dengan khaliqnya,”Orang yang suka berderma dekat dengan Allah, dekat
dengan surga, dekat dengan manusia, serta jauh dari neraka,”(HR. At-Tirmidzi).
Allahu A’lam**

Posting Komentar