Oleh: Rizki Ikhwan
(Pemerhati Pendidikan dan Aktifis Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan V, Penempatan Kabupaten Muna Sulawesi
Tenggara)
Harian Padang.com-Dalam sebuah ungkapan
bijak yang dikutip dari tulisan Bapak Baskoro Poedjinoegroho yang mengatakan “non scholae sed vitae discimus”, yang
artinya kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk kehidupan.
Dari ungkapan
tersebut, bisa kita tarik sebuah uraian bahwa seharusnya pendidikan diarahkan
untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menghadapi dan memecahkan problema
kehidupan, bukan sekedar untuk menguasai isi mata pelajaran yang pada umumnya
merupakan kajian keilmuan. Berbagai macam mata pelajaran yang diberikan di
sekolah, sedapat mungkin mengarahkan siswa dalam mengembangkan potensinya untuk
menghadapi berbagai problema, baik itu bagi dirinya pribadi, di lingkungan
keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Sehingga nantinya siswa dengan bekal
pendidikan yang mereka terima di sekolah mampu mengantarkan mereka menjawab
tantangan dimasa depan.
Untuk mampu menjawab segala tantangan yang ada pada masa
sekarang, siswa tentunya tidak hanya bisa bermodalkan keilmuan yang mereka
dapatkan di sekolah saja, tetapi juga harus mampu membaca kondisi sosial yang
ada di masyarakat. Kondisi sosial yang dimaksud adalah segala problema sosial
yang ada dimasyarakat yang berada di luar lingkungan sekolah, apakah itu berupa
kebiasaan, prilaku, atau segala kejadian yang terjadi di masyarakat yang
tentunya sedikit banyak memiliki hubungan dengan kehidupan siswa tersebut.
Dalam memahami kondisi sosial tersebut tentunya dibutuhkan yang namanya
kepekaan sosial. Melatih kepekaan sosial ini memang harus mendapatkan porsi
khusus di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga siswa itu sendiri, yang
kita kenal dengan istilah “social learning”. Pendidikan sosial
yang dimaksud, bukan sekedar menekankan materi ilmu sosial yang ada
dikebanyakan buku-buku yang ada di sekolah, tetapi porsi materi lebih diberikan
pada metode aplikatif dalam penerapan interaksi sosial di masyarakat.
Kepekaan sosial yang dimaksud bisa dicontohkan dalam
beberapa hal di lingkungan masyarakat, misalnya : siswa sedari dini dikenalkan
dengan kegiatan gotong royong, pergi menjenguk warga yang sakit, membantu warga
masyarakat yang kena musibah, dan berbagai bentuk aksi kepedulian yang lainnya.
Di dalam rumah tangga bisa dicontohkan seperti membantu saudara yang lain
ketika kesulitan dalam memahami pelajaran, membantu orang tua ketika hendak
menghidangkan makanan dan berbagai hal lainnya. Munculnya gagasan kepedulian
dan kepekaan yang tertuang dalam tindakan ini tentunya tidak muncul begitu
saja, mesti ada tauladan serta bimbingan yang dimunculkan, baik itu
dilingkungan keluarga siswa maupun tindakan nyata yang didapatkan dari
bimbingan guru di sekolah. Ketika pembiasaan sedari dini telah diberikan kepada
siswa, maka tentunya nanti secara tidak langsung, siswa mampu beradaptasi lebih
banyak lagi dan lebih peduli terhadap segala bentuk problema sosial yang ada di
masyarakat. Tidak jarang hari ini kita melihat diberbagai sekolah, apakah itu
sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun sekolah menengah, siswa telah ikut
serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian, keprihatinan,
dan juga bentuk sikap kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang
ada. Misalnya, aksi kepedulian bagi korban gunung meletus, korban banjir, dan
berbagai bencana alam yang melanda Indonesia. Bentuk kegiatan pun beragam,
mulai dari kegiatan do’a bersama bagi korban dan kelurga yang ditinggal, pengumpulan dana, dan berbagai kegiatan
lainnya. Bahkan tidak jarang juga banyak kita lihat hari ini siswa juga ikut andil
dalam kepedulian terhadap permasalahan luar negeri, seperti konflik perang yang
terjadi di Gaza Palestina, bencana kelaparan di Somalia, dan negara-negara
lainnya.
Kepekaan sosial ini tentunya diawal mesti diarahkan dan
dicontohkan oleh para guru dan orang tua siswa, sebagi bentuk stimulus bagi
peran aktif siswa itu sendiri. Karna pada prinsipnya, pendidikan juga
memberikan keteladan dalam penyampaian gagasan atau materi kepada anak didik.
Namun yang jelas, lingkungan keluarga tetap menjadi tempat awal proses
terjadinya pendidikan, maka dalam hal ini peran orang tua dalam keluarga tidak
boleh diabaikan. Sikap hidup dan social
skill yang diuraikan di atas seharusnya menjadi budaya dalam keluarga,
sehingga setahap demi setahap akan mewarnai sikap hidup dan kecakapan sosial
anak. Dan pada akhirnya sikap positif yang tumbuh mampu ditularkan di sekolah
dan bisa diaplikasikan dalam lingkungan masyarakat. Maka dari sinilah nantinya
siswa diharapkan mampu berinteraksi dan menjawab segala tantangan yang ada dimasyarakat.
Kecakapan sosial ini tidak harus menunggu sampai menempuh jenjang perguruan
tinggi atau ketika seseorang sudah lulus kuliah dan siap terjun kemasyarakat,
tetapi harus ditanamkan sedari dini. Agar tujuan pendidikan yang diberikan
terhadap anak itu benar-benar tercapai. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya
untuk mengejar kemampuan keilmuan semata tetapi juga mengharapkan
tercapainya kemampuan atau kecakapan
sosial (social skill).
Pulau Bangko, 16 November 2014
Posting Komentar