admin admin Author
Title:
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
Harian Padang-Ranah Pesisir, - Pencemaran lingkungan akibat usaha pembuatan tahu dan penyulingan minyak buah pala di kecamatan ranah pesis...
Harian Padang-Ranah Pesisir, - Pencemaran lingkungan akibat usaha pembuatan tahu dan penyulingan minyak buah pala di kecamatan ranah pesisir tepatnya beralokasi di Bukit jariang punai, Kampung koto panjang, Nagari sungai tunu utara, Kabupaten pesisir selatan, saat ini telah membuat warga resah dan merasa sangat terganggu dengan adanya aktivitas pabrik tersebut, pasalnya sampai saat ini pabrik tersebut tidak mengantongi izin ataupun enggan untuk mengurus izin yang resmi kepemerintahan daerah setempat.




Sebelumnya hal tersebut sudah pernah dilaporkan ke Pemkab pessel melalui berita acara tertanggal 18 Desember 2014 oleh Asrizal,BSc sebagai masyarakat pengadu, hal itu guna menindak lanjuti surat dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah pemerintah provinsi (SUMBAR) kepada kepala kantor lingkungan hidup kabupaten pesisir selatan nomor 660/137-X/KLH-PS/2014 tanggal 24 oktober 2014, namun sampai saat ini belum juga mendapat tanggapan yang serius dari pemerintahan kabupaten pesisir selatan.
Berdasarkan pantauan koran padang dilapangan, Selasa (7/4), didapatkan fakta temuan berupa usaha pembuatan tahu mulai beroperasi sejak juni 2012 dan sampai saat ini belum memiliki dokumen lingkungan hidup atau izin lingkungan serta izin usaha,kemudian operasi kegiatan mulai dari jam 8.00 sampai 17.00 lima hari dalam seminggu satu hari produksi menggunakan tiga karung kedelai atau 150 kg dengan hasil produksi sebanyak 15 kotak tahu (1 kotak berisi 250 blok), sumber air untuk produksi diambil dari Bukit jariang punai yang dialirkan dengan pipa paralon,air sisa perebusan dibuang bersamaan dengan air bekas pencucian kedelai, air limbah tersebut dibuang tanpa melalui proses pengolahan,saat dilapangan juga terlihat pada sambungan pipa paralon ada yang terlepas sehingga limbah yang akan dibuang kekolam penampungan langsung terbuang ke sungai jariang punai,kemudian terdapat genangan bekas pencucian dan perebusan tahu disekitar usaha pembuatan tahu dan bahkan sampai ke bahu jalan provinsi.
Warga setempat yang tinggal dikawasan tersebut dan enggan disebutkan namanya saat dikonfirmasi Koran Padang di kediamannya, menjelaskan bahwa pabrik tersebut sudah lama beroperasi dan setiap pagi limbah produksi dialirkan kesungai,  bentuknya seperti busa sabun kemudian setelah sampai disungai limbah tersebut tidak mengalir karena air sungai kecil hingga menjadi hitam kecoklatan dan menghasilkan bau yang sangat busuk dan menyengat.

"Kami selaku warga disini sudah bosan untuk mengingatkan pekerja disana namun sepertinya hal ini dianggap sepele saja" ujarnya geram.
Ditempat terpisah wali nagari sungai tunu utara, Ramawis zaen saat dikonfirmasi menuturkan bahwa dampak buruk yang diakibatkan oleh pabrik tersebut memang dirasakannya, namun ia juga mengharapkan supaya limbah yang dihasilkan jangan mencemari lingkungan, karena dampak yang dirasakan bukan hanya oleh pemilik pabrik saja melainkan warga sekitar bahkan pengendara yang lewat disana juga akan merasakannya.
"Disini kita tidak pernah melarang siapapun untuk berusaha, namun tolong limbahnya itu dijaga, jangan sembarangan saja karena sudah sangat mengganggu masyarakat disini, belum lagi masalah izinnya tidak ada, ini nantinya akan menjadi masalah yang sangat serius, selain merugikan kami disini mereka sendiri juga pasti nantinya akan terkena imbasnya", tutupnya. (Okis)

About Author

Advertisement

Posting Komentar

Popular Posts

 
Top