Pemblokiran itu, buntut kekesalan warga Katapiang,
terhadap Tim Penertiban Pemko Padang, yang melakukan pembongkaran
bangunan liar (Bangli). Warga mengklaim proses konsolidasi tanah belum
selesai.
Warga menaruh papan, balok, kayu dan berbagai
puing-puing bangunan lainnya di badan Jalan Raya Bypass, hingga menutup
seluruh badan jalan. Kayu, balok dan papan itu adalah puing-puing dari
bangunan liar yang dibongkar paksa oleh Tim Penertiban. Karena jalan
diblokir, arus lalulintas pun jadi lumpuh total. Pihak kepolisian
terpaksa mengalihkan arus kendaraan ke ruas jalan yang lainnya.
Sebelum memblokir jalan, beberapa warga sempat perang
mulut dengan Tim Penertiban yang akan membongkar bangunan-bangunan, yang
berada di sepanjang jalan itu.
Bahkan, beberapa anggota tim, sempat diajak berduel oleh
warga. Namun, pihak kepolisian dan Dinas Pehubungan Kota Padang
langsung menenangkan, dan meminta tim dari Pemko Padang untuk mundur.
Saat hendak mundur dari lokasi, tiba-tiba anggota Satpol PP yang dibawa
menggunakan dua mobil dikejar oleh warga. Satpol PP mundur ke arah
Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pauh IX Kuranji. Sampai di situ,
warga mencaci- maki anggota Satpol PP.
Tak puas dengan itu, ratusan warga kemudian berkumpul,
dan langsung memblokir jalan dengan menggunakan puing bangunan sisa
pembongkaran bangli.
Saat diminta keterangan terkait pemblokiran jalan itu,
penghulu Suku Koto Yarman Datuk Rajo Ibrahim mengaku, bertanggung jawab
terhadap pemblokiran jalan tersebut. Ia bersama warga juga bersitegas,
akan tetap memblokir jalan sebelum ada kesepakatan, dan penyelesaian
konsolidasi tanah warga, dengan Pemko Padang.
“Kami atas nama Suku Koto, bertanggung jawab atas
pemblokiran jalan ini. Kami tidak mau tahu, selesaikan dulu
konsilidasi, baru kami membuka pemblokiran ini. kami tidak mau lagi,
janji-janji yang bernuansa omong kosong belaka,” ujarnya.
Begitu juga kata ninik mamak lainnya Ali Umar (59). Ia
mengatakan, sejak 20 tahun yang lalu, atau sejak jalan Bypass dibuka
oleh Walikota terdahulu yaitu Syahrul Ujud, konsolidasi tanah warga
tidak kunjung selesai.
Parahnya lagi, pada saat itu, Syahrul Ujud menjanjikan
kepada warga yang terkena dampak pembangunan jalan Bypass, dengan
janji-janji seperti bebas IMB, dan diberikan sertifikat gratis untuk
tanah yang ada di luar jalur empat puluh itu. Namun, setelah jabatan
Walikota Padang diduduki oleh Fauzi Bahar, sertifikat, dan bebas IMB
tersebut, tidak berlaku sama sekali.
“Pada saat saya membangun bangunan di sekitar Bypass
ini, saya mendatangi pemerintah dan memperlihatkan surat perjanjian
yang dibuat oleh Syahrul Ujud itu. Namun, apa kata pemko, kepada saya?
Itu kan janji sama walikota yang lama. Siapa yang tidak kesal dengan
kata-kata seperti itu. Sekarang, kami tidak mau tahu, jadi atau tidak
jadi pembangunan jalur dua Bypass ini, yang penting konsolidasi kami
selesai,” tegasnya dengan aroma emosi.
Terkait dengan lumpuhnya arus lalu lintas yang melewati
perempatan simpang Katapiang itu, Kasat Lantas Polresta Padang Kompol
Adiyatna yang turun langsung melihat lokasi kejadian mengatakan, untuk
mengatasi lumpuhnya arus kendaraan, pihaknya langsung menurunkan 30
anggota kepolisian.
“Setelah kami mendapat kabar ada pemblokiran jalan di
Bypass ini, anggota kami langsung turun ke lapangan untuk mengatur dan
mengalihkan arus kendaraan. Di setiap perempatan jalan, seperti
perempatan Lubuk Begalung, perempatan Alai Bypass dan perempatan
lainnya, kami tempatkan lima anggota kepolisian,” katanya.
Sementara itu, untuk mengurai kemarahan dan mencarikan
solusi terhadap permasalahan tersebut, sekitar pukul 16.00 WIB, Walikota
Padang Fauzi Bahar datang ke lokasi. Dua jam Walikota Padang Fauzi
Bahar berdiskusi dengan warga, ninik mamak, pemuka masyarakat Kuranji
dan angota DPRD Padang, untuk mencarikan jalan keluar terhadap
permintaan warga tersebut.
Ahirnya didapatkan kata sepakat, yakni pengukuran
kembali lahan yang terkena imbas pelebaran jalan itu dan akan dilakukan
ganti rugi. “Kita sudah sepakati untuk melakukan ganti rugi, dan
pengukuran kembali terhadap lahan warga yang kena,” kata Fauzi Bahar.
Sekitar pukul 18.00 WIB warga kembali membuka blokir jalan tersebut,
sehingga jalur lalu lintas Jalan Raya Baypass lancar kembali seperti
biasanya. (h/cw-wis/cw-hri)
Posting Komentar