Harian Padang-Agaknya potensi sektor pendidikan kembali akan terabaikan lagi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) di tahun 2016. Setidaknya hal tersebut tergambar dari fokus utama perhatian Pemprov Sumbar di 2016 seperti yang dikemukakan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam pembukaan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) Sumbar 2016, Senin (6/4) di Pengeran Beach Hotel, Padang.
Irwan Prayitno memastikan arah pembangunan ekonomi Sumbar tahun 2016 lebih kepada arah pengembangan bidang agraris. Alasannya karena industri padat karya tidak cocok dikembangkan di Sumbar. Irwan pula mengatakan, untuk pengembangan daerah metropolitan di Sumbar juga tidak akan dapat terwujud, sebab pengembangan industri padat karya di Sumbar tidak diminati.
Banyak perusahaan yang mencoba membuka lapangan usaha di Sumbar akhirnya mati. Belajar dari pengalaman itu, maka disimpulkan industri padat karya tidak cocok untuk daerah Sumbar. Karakter orang Sumbar yang tidak mau memakan upah atau dalam artian lain tidak mau bekerja dengan menggunakan otot melainkan bekerja dengan otak juga menjadi kendala tersendiri.
Ditambahkannya, arah kebijakan ekonomi Sumbar akan lebih diutamakan ke arah reformasi agraria untuk mewujudkan kedaulatan pangan melalui pengendalian pemanfaatan lahan pertanian, pendistribusian bibit dan pupuk, peningkatan biaya operasi dan pemeliharaan irigasi dalam upaya peningkatan produktifitas pertanian.
Lebih lanjut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar, Afriadi Laudin juga menjelaskan arah kebijakan pembangunan Provinsi Sumbar 2016 bidang ekonomi yaitu mewujudkan kegiatan pertanian modern dan agribisnis maju dengan pendekatan wilayah. Selain itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan hasil produksi pertanian dan kelautan. Selain mewujudkan kegiatan jasa yang mampu.
Sedangkan Ketua DPRD Sumbar Hendra Irwan Rahim menilai tahun 2016 pembangunan di Sumbar akan menghadapi tantangan yang berat. Pasalnya, tahun itu adalah waktu di mana terjadi masa transisi kepala daerah dalam pemerintahan Sumbar. Di sisi lain tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan dimulai di akhir 2015 juga menuntut daya saing yang tinggi dari SDM dan Ketahanan Ekonomi, serta menuntut perencanaan yang matang.
Dirjen Keuangan Daerah, Reydonnyzar Moenek mewakili Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengatakan, untuk mencapai sasaran pembangunan nasional tahun 2016 dalam rangka mewujudkan Nawa Cita Jokowi – JK perlu dilakukan penajaman pencapaian sasaran terhadap beberapa program dan kegiatan pembangunan daerah. Salah satu sasaran program kegiatan pembangunan daerah untuk terwujudnya kedaulatan pangan.
Sedangkan Dirjen Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bapenas), Leonard VH Tampubolon mengatakan, sasaran pembangunan unggulan pemerintah pusat tentang kedaulatan pangan yaitu dengan peningkatan ketersediaan pangan melalui penguatan kapasitas produksi, penyelesaian pengamanan lahan berkelanjutan dan perluasan sawah baru 1 juta ha dan jaringan irigasi.
Melihat fokus utama perhatian Pemprov Sumbar lebih ke arah pertanian atau agraris di 2016, sesuai dengan program pemerintah pusat, maka dengan begitu dapat dipastikan pemikiran dan usul sejumlah rektor perguruan tinggi di Sumbar agar pemprov menjadikan potensi sector pendidikan sebagai primadona menjadi sirna lagi. Berbagai pemikiran yang ditawarkan pihak perguruan tinggi terkait dengan pengembangan sector pendidikan di Sumbar kembali hanya menjadi mimpi perguruan tinggi.
Padahal jika Pemprov Sumbar menjadikan pengembangan sector pendidikan menjadi salah satu focus utama pembangunan Sumbar, maka diyakini sector ini juga akan menimbulkan multyplier effect yang besar bagi sector lainnya, seperti pariwisata, perdagangan, transportasi, property dan lain sebagainya. Di sisi lain, Sumbar otomatis juga bisa lebih menekan jumlah masyarakat yang kuliah di perguruan tinggi di luar Sumbar seperti ke Pulau Jawa atau pun keluar negeri. Dengan begitu jumlah uang Sumbar mengalir ke daerah lain juga bisa diteken. Di sisi lain, masyarakat Sumbar juga bisa lebih mudah menguliahkan anaknya di perguruan tinggi berkualitas dengan biaya yang relative lebih murah.
Sejumlah rector pernah mengusulkan agar Sumbar dikembangkan sebagai daerah penyelenggara pendidikan yang terbaik. Karena, potensi paling besar yang dimiliki Ranah Minang adalah untuk pengembangan pendidikan, mulai dasar hingga perguruan tinggi.(Haluan) **
Posting Komentar