Oleh: Riwayat
Guru PAI SMPN 21 Padang
Sesungguhnya
beruntung orang yang masuk Islam dan rejekinya cukup dan merasa cukup dengan
apa yang telah Allah berikan kepadanya.(HR. Muslim). Dari hadis tersebut dapat
dipahami bahwa kalau orang telah masuk Islam, telah tunduk dan patuh, kemudian
diberi rejeki yang cukup dan menyikapi
rejeki tersebut dengan perasaan puas dan merasa cukup adalah suatu
keberuntungan yang luar biasa. Qonaah adalah merasa cukup dengan yang ia miliki
dan merasa rela dengan yang ia punya.
Ketika
kita tidak merasa puas dan merasa rela
dengan yang kita punya, maka pada dasarnya kita telah masuk katagori manusia
yang tidak mempunyai sifat qonaah, dan kita masuk pada golongan orang-orang
yang tamak, yang selalu tidak puas dengan apa yang punyai dan dimiliki. Keadaan
dan sikap tidak merasa puas adalah biang dari masalah pribadi, yang pada akhirnya
akan berujung kepada masalah yang lebih luas, karena telah mengkaitkan dan
berhunbungan dengan orang banyak.
Masalah
sendiri yang tak terselesaikan, pada akhirnya akan merembet menjadi masalah
bersama, karena telah terkait dengan orang banyak. Sikap tidak puas dengan
rejeki yang diberikan Allah kepada kita, pada dasarnya adalah awal dari
kesengsaraan, awal darai keruntuhan moral seseorang.
Orang yang
selalu tidak puas dengan rejeki yang ia punya, rejeki yang diberikan
Allah kepadanya akan berusaha mati-matian menambah dan menambah hartanya. Yang
terkadang dalam memburu dan menumpuk harta melupakan aturan-aturan Allah. Dan
tak jaran melanggar aturan Allah.
Kalau sikap merasa tidak puas ini
menghinggapai para pemimpin negeri ini, maka yang terjadi adalah banyak
pemimpin yang korupsi. pemimpin yang korupsi pada dasarnya adalah pemimpin yang
tidak puas dengan rejeki yang diberikan Allah kepadanya. Perasaan dsn sikap tidak puas dengan harta
benda yang dimiliki menyebabkanya menjadi sosok pemimpin yang rakus, pemimpin
yang tamak dan haus kekuasaan, yang dengan kekuasaan tersebut ia akan memenuhi kehausannya akan harta benda.
Pemimpin yang telah dihinggapi rasa tidak
puas dapat dilihat dari kebijakannya
yang selalu memberi keuntungan dan kesempatan kepada diri, keluarganya
mengakses kekayaan dengan lebih mudah. Kebijakannya cenderung merugikan
rakytanya. Dan bahkan memanfaatkan rakyatnya untuk sebesar-besar keuntungan
pribadi.
Ketika qonaah tidak lagi menjadi kepribadian,
maka akan tergantikan dengan sifat rakus. Ketika rakus telah menjadi
kepribadian, maka rasa malu akan hilang dan
perbuatan melanggar tidak lagi menjadi persoalan. Sikap dan perilakunya
tidak lagai menjadi sosok pemimpin yang mementingkan kebutuhan dan keinginan
rakyatnya, ia menjadi sosok pemimpin untuk nafsu dan ambisi ketidakpuasan akan
yang ia miliki.
Padahal,
kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harat benda akan tetapi adalah
kekayaan hati. Bukanlah kekayaan itu banyak
harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati". (
H.R.Bukhari dan Muslim).
Jikalau, setiap pemimpin negeri ini mempunyai konsep yang
jelas tentang harta, bahwa kekayaan bukan diukur dengan banyaknya harta, dan
menyadari dan menyikapi kekayaan harus diterima dengan rela dan dengan sikap
puas, tentu tidak akan ada lagi pemimpin yang terlibat dan melakukan korupsi,
manipulasi dan terima suap dan gratifikasi.
Keinginan dan impian
mempunyai pemimpin yang qonaah masih jauh dari realisasi, akan tetapi sebagai
anak bangsa kita tidak boleh menyerah dan tersu berharap dan berusaha
bagaimana mewujudkan dan menyiapkan
pemimpin yang mempunyai sifat qonaah.
Diantara jalan yang perlu kita lakukan adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan dimungkinkan perubahan itu terjadi.
Dengan pendidikan kita berharap ada perubahan yang baik dan
signifikan. Tentunya pendidikan yang kita lakukan adalah pendidikan yang tidak
sekedar mendidik dan mengajar anak pintar ilmu dan teknologi, akan tetapi yang
lebih penting adalah bagaimana pendidikan mampu menyiapkan anak didik yang
mempunyai akhlak yang baik.
Menyiapkan
dan menghasilkan anak didik yang mempunyai akhlak yang baik adalah satu di
antara sekian tujuan pendidikan nasional. Untuik itu perlu kiranya semua pihak
mengawal keberlangsungan pendidikan yang menitikberatkan kepada pembentukan akahlak yang baik.
Dengan adanya proses pendidikan yang menitikberatkan
kepada pembentukan akhlak yang baik, diharapkan akan muncul calon pemimpin yang mempunyai sifat qonaah.

Semoga pemimpin-pemimpin dan masyarakat sum-bar mempunyai sifat qonaah, dengan begitu perkembangan dari berbagai aspek dapat segera terwujud.
BalasHapus