admin admin Author
Title: Pemimpin Yang Qonaah
Author: admin
Rating 5 of 5 Des:
Oleh: Riwayat   Guru PAI  SMPN 21 Padang Sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rejekinya cukup dan merasa cukup dengan ap...
Oleh: Riwayat 
Guru PAI  SMPN 21 Padang
Sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rejekinya cukup dan merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.(HR. Muslim). Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa kalau orang telah masuk Islam, telah tunduk dan patuh, kemudian diberi rejeki yang  cukup dan menyikapi rejeki tersebut dengan perasaan puas dan merasa cukup adalah suatu keberuntungan yang luar biasa. Qonaah adalah merasa cukup dengan yang ia miliki dan merasa rela dengan yang ia punya.

Ketika kita tidak merasa puas  dan merasa rela dengan yang kita punya, maka pada dasarnya kita telah masuk katagori manusia yang tidak mempunyai sifat qonaah, dan kita masuk pada golongan orang-orang yang tamak, yang selalu tidak puas dengan apa yang punyai dan dimiliki. Keadaan dan sikap tidak merasa puas adalah biang dari masalah pribadi, yang pada akhirnya akan berujung kepada masalah yang lebih luas, karena telah mengkaitkan dan berhunbungan  dengan orang banyak.
Masalah sendiri yang tak terselesaikan, pada akhirnya akan merembet menjadi masalah bersama, karena telah terkait dengan orang banyak. Sikap tidak puas dengan rejeki yang diberikan Allah kepada kita, pada dasarnya adalah awal dari kesengsaraan, awal darai keruntuhan moral seseorang.
 Orang yang  selalu tidak puas dengan rejeki yang ia punya, rejeki yang diberikan Allah kepadanya akan berusaha mati-matian menambah dan menambah hartanya. Yang terkadang dalam memburu dan menumpuk harta melupakan aturan-aturan Allah. Dan tak jaran melanggar aturan Allah.
 Kalau sikap merasa tidak puas ini menghinggapai para pemimpin negeri ini, maka yang terjadi adalah banyak pemimpin yang korupsi. pemimpin yang korupsi pada dasarnya adalah pemimpin yang tidak puas dengan rejeki yang diberikan Allah kepadanya.   Perasaan dsn sikap tidak puas dengan harta benda yang dimiliki menyebabkanya menjadi sosok pemimpin yang rakus, pemimpin yang tamak dan haus kekuasaan, yang dengan kekuasaan tersebut ia akan  memenuhi kehausannya akan harta benda.
 Pemimpin yang telah dihinggapi rasa tidak puas  dapat dilihat dari kebijakannya yang selalu memberi keuntungan dan kesempatan kepada diri, keluarganya mengakses kekayaan dengan lebih mudah. Kebijakannya cenderung merugikan rakytanya. Dan bahkan memanfaatkan rakyatnya untuk sebesar-besar keuntungan pribadi.
 Ketika qonaah tidak lagi menjadi kepribadian, maka akan tergantikan dengan sifat rakus. Ketika rakus telah menjadi kepribadian, maka rasa malu akan hilang dan  perbuatan melanggar tidak lagi menjadi persoalan. Sikap dan perilakunya tidak lagai menjadi sosok pemimpin yang mementingkan kebutuhan dan keinginan rakyatnya, ia menjadi sosok pemimpin untuk nafsu dan ambisi ketidakpuasan akan yang ia miliki.
Padahal, kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harat benda akan tetapi adalah kekayaan hati. Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati". ( H.R.Bukhari dan Muslim).
Jikalau, setiap pemimpin negeri ini mempunyai konsep yang jelas tentang harta, bahwa kekayaan bukan diukur dengan banyaknya harta, dan menyadari dan menyikapi kekayaan harus diterima dengan rela dan dengan sikap puas, tentu tidak akan ada lagi pemimpin yang terlibat dan melakukan korupsi, manipulasi dan terima suap dan gratifikasi.
 Keinginan dan impian mempunyai pemimpin yang qonaah masih jauh dari realisasi, akan tetapi sebagai anak bangsa kita tidak boleh menyerah dan tersu berharap dan berusaha bagaimana mewujudkan  dan menyiapkan pemimpin yang mempunyai sifat qonaah.  Diantara jalan yang perlu kita lakukan adalah melalui pendidikan.  Dengan pendidikan dimungkinkan perubahan  itu terjadi.
Dengan pendidikan kita berharap ada perubahan yang baik dan signifikan. Tentunya pendidikan yang kita lakukan adalah pendidikan yang tidak sekedar mendidik dan mengajar anak pintar ilmu dan teknologi, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan mampu menyiapkan anak didik yang mempunyai akhlak yang baik.
Menyiapkan dan menghasilkan anak didik yang mempunyai akhlak yang baik adalah satu di antara sekian tujuan pendidikan nasional. Untuik itu perlu kiranya semua pihak mengawal keberlangsungan pendidikan yang menitikberatkan kepada pembentukan  akahlak yang baik.

 Dengan adanya proses pendidikan yang menitikberatkan kepada pembentukan akhlak yang baik, diharapkan akan muncul  calon pemimpin yang mempunyai sifat qonaah.

About Author

Advertisement

Posting Komentar

  1. Semoga pemimpin-pemimpin dan masyarakat sum-bar mempunyai sifat qonaah, dengan begitu perkembangan dari berbagai aspek dapat segera terwujud.

    BalasHapus

Popular Posts

 
Top